Malem guys
Saat ini aku lagi agak merasa kesepian n kangen saat aku bisa berbicara dengan seseorang yang menjadi alasanku untuk tersenyum ..
Saat saat itu ada ketika bulan ramadhan kemarin yang menyisakan cerita yang masih membekas sampai saat ini, namun semua itu gak abadi hanya sebatas kilatan cahaya yang melewati mataku.
Pada bulan ramadhan kemarin, aku seperti biasa duduk di teras rumah sambil menjaga dagangan. Ibuku tak kenal hari apapun beliau akan terus berjualan untuk menambal lubang perekonomian keluarga jadi sebagai anak kedua n yang tertua setelah kakak perempuanku aku hanya bisa mendukung beliau dengan sedikit bantuan dariku.
Tiba tiba lewatlah ia dari utara di depan rumahku menuju rumahku. Awalnya aku bingung tidak biasanya dia berjalan ke arah rumahku karena ia jarang membeli bakso dirumahku, namun setelah ia sampai dihadapanku ia berkata, "mas, aku pengen curhat". Tanpa berkata2 karena masih dalam keadaan bingung aku pun hanya mengangguk dan mempersilahkan ia duduk. Dalam curhatnya ia bercerita seluruh uneg2nya entah ketika disekolah atau pun dirumah dan aku hanya mendengarkan ia serta memberi saran untuknya.
Hari demi hari kesehariaanku yang biasanya membuatku bosan kini sudah ada yang membuatku merubah pikiranku. Setiap hari ia datang kerumahku entah itu tentang curhat atau pun meminta saran. Aku dengan senangnya menerima semua itu.
Suatu hari ia datang kerumah untuk meminta tolong padaku untuk mengambilkan hp miliknya karena hpnya sedang diperbaiki, ia ingin membatalkan perbaikan hpnya. Namun aku tak banyak menolong karena aku juga tidak paham maksut dari tukang servis itu dan akhirnya aku dan dia pulang dengan tangan hampa.
Aku merasa tak berguna membuatnya berharap tinggi padaku namun aku mengecewakannya tapi yang membuatku heran ia malah tersenyum padaku dan berkata,"gak apa apa mas, jangan terlalu dipikirkan".
Setelah mendengar itu aku hanya bisa menundukkan kepalaku sambil berpura pura tegar.
Hal yang paling membuatku marah adalah saat ia bercerita dirinya yang diganggu ayah tirinya.
Saat itu marah namun aku tak bisa berbuat apa apa karena seakan ada dinding yang tinggi membatasi langkahku untuk menolongnya.
Aku hanya bisa bilang padanya "jika kamu butuh bantuan jangang sungkan sungkan untuk meminta padaku" . namun keesokannya dan seterusnya ia tak datang lagi.
Aku merasa hal hal yang kulakukan tidak sama persis dengan apa yang kuucapkan. Dan itu membuatku depresi.
Aku pun membuat sebuah diary untuk mengenang saat bersama dengannya meski singkat namun sangat berharga untuk dikenang karena aku sangat mencintainya.
To: (R)
I always waiting you until the end from my journey of life .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar