Sudah hampir seminggu sejak aku dan rima tak saling bicara akrab sperti biasanya. Mungkin ini yang terbaik untukku dan rima agar bisa menjalani hidupnya masing masing tanpa saling bergantung sama lain namun dibenakku ada rasa tak menerima hal ini seperti bagian dari hidupku sudah hilang tapi mau bagaimana lagi jika takdir memang maunya seperti ini akan kujalani meski sakit. Setiap hari kulalui dengan keseharian yang biasa saja , berkumpul dengan teman sepulang sekolah atau tidur siang jika badan sudah kelelahan itu kulakukan setiap hari dan sama sekali tak ada perubahan. Suatu hari ketika aku sedang bermain game dihpku datang temanku namanya jaya. Ia meminta nomer pamannya padaku namun aku tak memilikinya saat itulah aku menawarinya tuk meminta kepada rima yang dulunya adalah anaknya. Kami pun berangkat menuju kerumahnya, ketika aku mengetuk pintu yang ada cuman ibu dan pamannya katanya rima masih keluar namun ketika aku berbalik jaya bilang "ini anaknya" sambil menanyakn nomer pamannya dan rima mengganguk tanda memilikinya. Setelah itu aku berencana untuk pulang karena kupkir urusanku sudah selesai namun jaya menahanku dan brkata " bentar bareng aja kalo mo pulang". Lalu ia tiba tiba membicarakn alasan ia mencari nomer pamannya, setelah beberapa lama berbincang rima akhirnya keluar dan memanggil jaya tuk memberikan nomernya .tanpa kata aku hanya duduk membelakangi rima dan jaya setelah selesai aku hanya bisa bilang maaf dalam hati diperjlann pulang ke rumah.
Esok harinya ketika aku sedang nongkrong ditmpat biasa, aku berfikir apa ini bnar2 yang terbaik buatku dan dia. Jika aku meminta maaf lalu kami baikan setelah itu terjadi lagi peristiwa yg sprti ini apa itu yg hrus kujalani dengnnya .. Aku bngung harus bagaimana jika ad suatu cara dimna kami tidak saling menyakiti dan tidak saling disakiti lebih baik aku memilih cara itu....
Kamis, 27 Agustus 2015
Apa ini yang terbaik buatku dan dia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar